header-int

Rasa Indonesia di Italia

Share
Posted : 15 Jun 2017
Nama Penulis:
H. Khumaini Rosyadi, S.Q., M.Pd.I Catatan perjalanan dakwah Guru PAI SMA YPK di Roma Italia 2017
Isi Artikel:

Kagum. Ketika saya berhadapan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia di Roma, Ibu Esti Andayani. Ternyata Ibu dubes sangat bersahabat dan berselera humor juga.

Tidak disangka, ketika saya mendengar kata mukena. Ibu Esti – sebutan akrabnya -  mengatakan kepada Priska – Polwan asal Padang yang terpilih menjadi Sekretaris Pribadi ibu Esti melalui seleksi yang ketat – Priska, coba tolong ambilkan mukena ibu di ruangan itu! Mukena yang warna apa bu? Tanya Priska.

Mukena mukaga, terserah aja deh. Jawab bu Esti sambil tertawa. Hehe. Ternyata Ibu dubes senang bercanda juga. Humor tingkat tinggi, yang tidak terbayang kata itu bisa diplesetkan.

Dalam bayangan saya, harus kaku dan jaga sikap di hadapan Ibu Dubes, ternyata salah. Sebenarnya bu dubes itu baik sekali. Dekat dengan seluruh Staff dan santun dengan ibu-ibu Dharma Wanita Perastuan Kemlu.

Di saat saya menyampaikan kultum berbuka puasa di KBRI, ada pertanyaan tentang hal-hal yang membatalkan wudlu. Apakah batal wudhu-nya kalau mencebokkan anaknya? Tanya salah seorang Ibu DWP.

Saya menyebutkan hal-hal yang membatalkan wudhu, dari mulai keluarnya sesuatu dari qubul dan dubur, bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan  bukan muhrim, termasuk dengan suami – membatalkan wudhu.

Dan menyentuh qubul dan dubur itu juga membatalkan wudhu-nya. Ada yang bertanya bagaimana kalau pakai sarung tangan pak ustaz. Ternyata ibu dubes juga menimpali, bagaimana kalau disemprot saja pak ustaz. Hehe.

Tidak terpikir ternyata masalah keseharian ibu-ibu ini sangat detail sekali. Memang sangat seru, semakin menarik untuk dikupas dan dibahas permasalahan fiqih ini, agar ibadah yang dilakukan bertambah baik dan sesuai tuntunan.

Terkadang pertanyaan itu standar tapi lucu. Seperti menanyakan tentang niat mandi wajib, padahal sudah punya cucu lima. Mengejar rakaat agar sama dengan imam, padahal sudah ketinggalan satu rakaat. Tapi itulah nikmatnya berbagi ilmu. Sharing penegtahuan. Apalagi jamaahnya orang Indonesia semua, tidak menyulitkan saya untuk ceramah dengan bahasa asing sebagaimana ketika audisi perekrutan dai ambassador yang syaratnya harus bisa berbahasa asing, minimal bahasa Arab atau inggris.

Serasa di Indonesia meski ada di Italia. Menu makanan setiap sahur dan berbuka juga makanan ala Indonesia. Setiap hari mengisi kajian bada zuhur pun dengaan berbahasa Indonesia. Setiap hari sabtu ada acara buka bersama dengan masyarakat Indonesia.

Seni budaya yang dimainkan oleh DWP juga angklung Indonesia. Kumpul-kumpul pun asyik dengan gaya Indonesia. Setiap kumpul pasti ada makanan. Setiap kumpul pasti ada prasmanan.

*Dai Ambassador Cordofa 2017, Tidim LDNU, Guru PAI SMA YPK Bontang, Penulis Buku: 
Amroden Belbre; Perjalanan Dakwah 45 hari di Eropa Fathul Khoir; Metode Mudah Memahami Ilmu Tajwid

File Pendukung:
SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang SMA Yayasan Pupuk Kaltim, sejak 1983 mengemban misi pendidikan bagi putra-putri karyawan PT. Pupuk Kaltim dan masyarakat Bontang dan sekitarnya, menerapkan sekolah serius untuk sebuah pembelajaran yang optimal, sehingga menjadikan sekolah ini Homebase-nya para juara dan menjadi The gateway to prominent universities dalam mengantar alumninya untuk studi lanjut.
© 2017 SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Follow SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang : Facebook Twitter Linked Youtube