header-int

Semangat Diplomat Saat Berzakat

Share
Posted : 15 Jun 2017
Nama Penulis:
Catatan perjalanan dakwah Guru PAI SMA YPK di Roma Italia 2017
Isi Artikel:

Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ., M.Pd.I

Guru Agama Islam SMA YPK Bontang

Dai Ambassador Cordofa 2017

Tidim LDNU

Guru PAI SMA YPK Bontang

Penulis Buku:

Amroden Belbre; Perjalanan Dakwah 45 hari di Eropa

Fathul Khoir; Metode Mudah Memahami Ilmu Tajwid

Satu persatu. Hari demi hari, sedikit-sedikit mulai berdatangan para diplomat di KBRI Roma menghampiri saya -  dai dompet dhuafa sekaligus amil ambassador di Italia -  untuk menunaikan kewajibannya dalam berzakat. Hari ini, senin (11/6/2017). Semangat para diplomat untuk berzakat memang patut diberikan apresiasi. Meskipun jauh di luar negeri, tetapi masih perduli dengan masyarakat di Indonesia dengan menyisihkan sebagian rizkinya untuk berdekah, dan utamanya adalah kewajibannya untuk berzakat. Para diplomat meyakini bahwa dengan zakat yang mereka keluarkan kepada mustahiknya akan membuat rejeki mereka berkah dan bertambah.

Menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim dalam setiap perintah-Nya merupakan kebahagiaan bagi pelakunya. Baik perintah itu kewajiban setiap hari, seperti sholat lima waktu. Maupun perintah itu kewajiban mingguan, seperti sholat Jum’at. Ataupun perintah itu kewajiban bulanan seperti berpuasa pada bulan Ramadhan. Juga perintah itu kewajiban tahunan seperti zakat. Dan ada juga perintah itu kewajiban sekali seumur hidup jika mampu seperti ibadah haji. Sebagaimana yang telah tertanam kuat dalam prinsip Islam,  rukun Islam yang lima.

Dalam menunaikan kewajiban di dalam hukum-hukum Islam dikenal sebuah istilah dengan nama taklif. Artinya setiap Muslim yang sudah baligh dan berakal wajib melaksanakan perintah yang telah ditetapkan dalam agama. ketika seseorang itu belum mencukupi syarat tiga tersebut, maka tidak ada kewajiban baginya untuk melakukannya.

Dengan mengucapkan sepenuh hati dua kalimat syahadat – Asyhadu An laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah – maka sudah cukup syarat baginya disebut sebagai Muslim. Maka ketika seorang muslim laki-laki atau perempuan itu sudah baligh – ditandai dengan menstruasi bagi perempuan dan bermimpi keluar air sperma bagi laki-laki atau sudah mencapai umur 16 tahun – wajib hukumnya untuk melakukan sholat lima waktu dan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan.

Di samping syarat sudah baligh di atas, muslim itu juga harus berakal sehat. Meskipun muslim sudah baligh tapi akalnya tidak sehat – gila – maka tidak ada kewajiban untuk melakukan sholat, puasa, dan haji.

Berbeda dengan zakat. Dalam berzakat tidak disyaratkan muslim itu harus berakal dan baligh. Selama seseorang itu muslim, maka wajib membayar zakat. Kalau dia belum baligh atau akalnya tidak sehat tetap wajib membayar zakat. Jangankan yang masih kecil, bayi baru lahir saja pada bulan Ramadhan wajib dibayarkan zakat. Jangankan yang masih hidup. Orang yang meninggal pada bulan Ramadhan pun wajib dibayarkan zakat. Siapa  yang membayarkannya? Tentunya, orang tuanya atau orang yang menanggung biaya hidupnya. Zakat yang dimaksud di sini adalah zakat Fitrah.

Marilah menunaikan zakat. Zakat dapat membuat berkah harta. Zakat dapat menentramkan hati pelakunya. Zakat dapat mensucikan hati dan harta. Zakat dapat menghapuskan dosa-dosa. Amin y robbal alamin.

#cordofa #tidim #ldnu #smaypk #bontang

File Pendukung:
SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang SMA Yayasan Pupuk Kaltim, sejak 1983 mengemban misi pendidikan bagi putra-putri karyawan PT. Pupuk Kaltim dan masyarakat Bontang dan sekitarnya, menerapkan sekolah serius untuk sebuah pembelajaran yang optimal, sehingga menjadikan sekolah ini Homebase-nya para juara dan menjadi The gateway to prominent universities dalam mengantar alumninya untuk studi lanjut.
© 2017 SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Follow SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang : Facebook Twitter Linked Youtube