header-int

Toleransi di mulai dari sekolah

Share
Posted : 15 Jun 2017
Nama Penulis:
H. Khumaini Rosyadi, S.Q., M.Pd.I Catatan perjalanan dakwah Guru PAI SMA YPK di Roma Italia 2017
Isi Artikel:

Toleransi dari Sekolah di Roma – Italia

Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ., M.Pd.I

Guru Agama Islam SMA YPK Bontang

Dai Ambassador Cordofa 2017

Tidim LDNU

Penulis Buku:

Amroden Belbre; Perjalanan Dakwah 45 hari di Eropa

Fathul Khoir; Metode Mudah Memahami Ilmu Tajwid

Sekolah merupakan titik awal memupuk etika kebaikan dan toleransi. Dimulai dari sekolah semua akan berjalan sesuai dengan aturan. Rapih dan sistematis. Akan berbeda jika sesuatu keputusan dan kebijakan dihasilkan dengan sekolah atau hanya kebetulan dan asal bapak senang saja. Dengan sekolah keputusan akan menjadi bijaksana. Dengan sekolah akan menciptakan keharmonisan. Sekolah mewujudkan toleransi.

Sekolah tidak harus klasikal, sekarang ada juga sekolah berkonsep alam. Sekolah tidak harus formal, ada juga sekolah non formal atau informal. Sekolah ada proses. Tidak instan atau langsung jadi. Sekolah harus ada guru dan ada murid, karena jika tidak ada gurunya akan tersesat. Ada tenaga pendidik dan ada peserta didik. Tidak harus banyak untuk memenuhi jumlah ideal. Guru satu dengan satu siswa pun sudah cukup. Sekolah adalah belajar dan mengajar. Seperti hadits Rasulullah menyebutkan Ibu adalah sekolah yang pertama bagi anaknya.

Sekolah mengajarkan etika, tatakrama, dan sopan santun. Lebih tepatnya disebut sebagai Akhlak. Karena sekolah mengajarkan dan mendidik siswanya untuk itu. Menjadikan siswa yang baik, berkarakter, dan mewujudkan kebaikan yang telah dipelajari di sekolah. Bukan hanya teori tapi prakteknya. Jika ada orang yang berbuat jahat dan dia adalah orang sekolah, jangan disalahkan sekolahnya, tetapi bisa dikembalikan kepada orang tersebut. Tentunya akan banyak faktor yang bisa ditanyakan mengapa orang itu berbuat jahat. Mungkin secara kasarnya bisa dikatakan; yang sekolah saja bisa berbuat jahat apalagi yang tidak sekolah.

Apalagi tidak dapat dipungkiri dengan beragamnya perbedaan di sekolah. Sekolah formal dan klasikal yang sekarang ini sangat bersaing untuk merekrut peserta didik baru dari jauh-jauh hari dengan berbagai macam tampilan keunggulan dan prestasi. Mulai dari guru-gurunya dan sederet prestasi yang pernah diraih sekolah atau siswa-siswanya. Perbedaan status dan tingkatan ekonomi orang tua. Ada yang bisa mandiri, ada juga yang masih manja. Perbedaan kebiasaan di rumah akan terbawa ke sekolah. Perbedaan uang saku dari orang tua jika di sekolah ada kantin, juga akan berpengaruh pada siswa di sekolah. Boleh atau tidaknya siswa membawa bekal dari rumah ke sekolah. Karena ada juga sekolah yang tidak membolehkan siswanya membawa bekal dari rumah.

Sekolah formal di Roma – Italia hampir seluruhnya sudah menyiapkan makan siang. Terutama sekolah dasar di Roma umumnya sampai sore, dimulai dari 08.20 sampai 16.00 waktu setempat. Kata Adnan (orang tua siswa yang juga merupakan staff KBRI Roma). Siswa Tidak boleh bawa bekal dari rumah. Karena pemerintah sudah memberikan subsidi untuk makannya. Tentunya ini menjadi kekhawatiran bagi Adnan sebagai orangtua. Khawatir tentang menu makan yang disajikan oleh pemerintah yang pastinya ada saja makanan yang tidak boleh dimakan oleh muslim. Contohnya daging babi.

Menyadari sebagai minoritas, tentunya harus memilih alasan yang tepat untuk membuat pihak sekolah tidak tersinggung. Kata adnan. Ini dulu, sekitar sepuluh tahunan yang lalu. Pernah dengan alasan alergi daging. Karena ketika jam makan siang, siswa tidak mau makan, orangtua akan dipanggil oleh pihak sekolah. Akhirnya beralasan alergi. Tetapi sekarang semuanya sudah tahu. Sekolah pun tahu, bahwa muslim tidak dibolehkan memakan daging babi.

Sekarang ini sudah bebas. Dengan terbuka mengatakan alasan agama, mereka pun sudah mengerti. Kata adnan. Sekarang tinggal melapor saja kepada komine (bagian logistik di Roma) bahwa anaknya muslim, maka komine akan mengatur menu makanan tersendiri untuk muslim. Jika pada saat itu menu makanan daging babi, maka yang muslim akan diberikan alternatif makanan pengganti yang halal. Begitu juga yang alergi dengan makanan tertentu, seperti seafood misalnya, maka akan diberikan alternatif makanan yang aman.

Demikianlah toleransi dimulai dari sekolah. Komine atau pemerintah Roma yang mengatur tentang menu makanan untuk anak-anak sekolah telah mengajarkan bagaimana bertoleransi antar umat beragama. Karena ini prinsip. Dalam Islam, daging babi dan sejenisnya hukumnya haram dimakan. Komine akan menggantikan dengan menu makanan yang halal.

#daiambassador #tidim #ldnu #cordofa #bontang #kbri #roma #smaypkbontang

File Pendukung:
SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang SMA Yayasan Pupuk Kaltim, sejak 1983 mengemban misi pendidikan bagi putra-putri karyawan PT. Pupuk Kaltim dan masyarakat Bontang dan sekitarnya, menerapkan sekolah serius untuk sebuah pembelajaran yang optimal, sehingga menjadikan sekolah ini Homebase-nya para juara dan menjadi The gateway to prominent universities dalam mengantar alumninya untuk studi lanjut.
© 2017 SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Follow SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang : Facebook Twitter Linked Youtube