header-int

Dinamika Yayasan Pupuk Kaltim dalam mempertahankan eksistensinya pada era kompetitif

Share
Posted : 27 Feb 2019
Nama Penulis:
K. Adi Suwito, M.Pd.I (Guru PAI SMA YPK): Artikel ini meraih Juara 2 pada lomba penulisan artikel HUT YPK ke-36 tahun 2019
Isi Artikel:

  1. Latar Belakang

Banyak bermunculan lembaga pendidikan baru dengan konsep dan pendekatan baru yang mereka tawarkan. Hal ini, membuat lembaga pendidikan yang lama dihadapkan pada posisi kritis, jika tidak melakukan penyesuaian tuntutan masyarakat. Sebagai contoh adalah munculnya sekolah-sekolah Islam Terpadu (IT) yang merupakan respon atas ketidakpuasan terhadap Sistem Pendidikan Nasional yang dianggap tidak mampu menjawab kebutuhan dan tantangan zaman. Kurikulum sisdiknas dianggap gagal membentuk moral para siswa dalam melindungi mereka dari penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, dan kenakalan remaja. Kekhawatiran ini menyebabkan masyarakat “hijrah” berbondong-bondong menyekolahkan putra-putrinya di lembaga pendidikan berbasis agama.

Azyumardi Azra (2006: 18), fenomena ini terjadi seiring dengan pergeseran kebijakan Negara yang ditandai dengan berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) tahun 1980. Ini merupakan bagian dari usaha untuk mengenalkan simbol dan lembaga islami kepada masyarakat, sehingga sebagian Muslim melakukan berbagai eksperimen untuk mengislamisasikan pendidikan formal. Mereka membuat sejumlah sekolah-sekolah Islam yang berkualitas yang menggabungkan pendidikan umum dengan pendidikan Islam. Beberapa contoh sekolah-sekolah model ini adalah al-Azhar, al-Izhar, Muthahhari, Insan Cendekia, Madania, Bina Insan, Dwi Warna, Lazuardi, Fajar Hidayah, Nurul Fikri, dan Salman al-Farisi. Pada kenyataannya sebagian dari sekolah-sekolah tersebut, saat ini sudah beroperasi di Kota Taman dan mendapat respon positif dari masyarakat.

Di sisi lain, sekolah-sekolah negeri yang tanpa pemungutan biaya (gratis) itu terus berkembang keberadaannya, fasilitas yang senantiasa dilengkapi, jumlah kelas rombongan belajar yang terus ditambah dari tahun ke tahun, para pendidiknya pun mayoritas sudah S2, bahkan sebagian guru negeri berasal dari YPK. Hal ini tentu membuat masyarakat harus rela antre untuk mendaftarkan putra-putrinya di lembaga pendidikan negeri.

Bagaimana dengan Yayasan Pupuk kaltim?

Sekolah swasta di Indonesia pada umumnya berada di bawah naungan yayasan sebagai payung lembaga pendidikan. Setiap yayasan memiliki tujuan yang spesifik sesuai dengan bidang garapan yang dimiliki. Peran yayasan terutama dalam menyokong dan mempromosikan lembaganya sangatlah penting, mengingat semakin ketatnya kompetisi lembaga pendidikan dalam menarik minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Oleh karena itu, YPK dituntut untuk terus dinamis, kreatif dan inovatif dalam pengembangan dan “penyajian” pendidikan, sehingga di masa yang akan datang YPK terus eksis dan tidak ditinggalkan oleh masyarakat.

Sebagai bentuk upaya dinamisasi dalam mempertahankan diri dalam kompetisi terbuka ini, maka yayasan harus segera mengembangkan program penataan lembaga pendidikan, baik yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Inovasi program jangka pendek berupa; pegembangan program unggulan kelas diniyah (keagamaan), pengembangan bahan ajar dan evaluasi secara online, bijak menyikapi UN, optimalisasi kompetisi olimpiade sains, agama, dan kegiatan ekskul.Sedangkan untuk inovasi jangka panjang, YPK harus berani berubah dengan menyiapkan program pembaharuan Sekolah Ramah Bakat (SRB).

  1. Pengembangan Program Unggulan Kelas Diniyah (Keagamaan)

Keberadaan Madrasah Diniyah memiliki peran penting dalam mendidik masyarakat para generasi muda dalam menanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan sejak dini. Diniyah telah menerima pengakuan dari pemerintah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional di Indonesia. Madrasah diniyah saat ini ada dua kategori, yaitu madrasah diniyah takmiliyah (MDT/Non Formal) dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF).

Madrasah Diniyah Takmiliyah merupakan pendidikan keagamaan Islam nonformal yang merupakan pendidikan tambahan sebagai penyempurna bagi siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) yang hanya mendapat pendidikan agama Islam tiga jam pelajaran dalam satu minggu.

Kurikulum MDT didesain untuk memperkuat pemahaman keagamaan Islam yang damai, toleran, dan moderat, di samping basis kultur dan budaya keindonesiaan. Isi kurikulumnya tidak berbeda dengan kurikulum pondok pesantren yang berada di Jawa. Hal ini, tentu memiliki dampak positif, jika YPK segera mengembangkan diniyah. Mengingat sebagian besar putra-putri karyawan PKT di pondokkan di Jawa.

Nilai lebih bagi YPK dengan pengembangan diniyah adalah; bahwa saat ini di Bontang belum ada lembaga pendidikan formal yang mengeintegrasikan kelas unggulan diniyah. Orang tua tidak harus dibuat repot dengan mengantar, menjemput dan mengontrol putra-putrinya saat mondok di Jawa, karena sudah teredia di Bontang. Pertimbangan yang lain adalah bahwa YPK memiliki dua SD (SD-1 dan SD-2), maka salah satu dari dua SD tersebut dapat dikembangkan program kelas unggulan diniyah takmiliyah yang terintegrasi dalam kurikulum nasional.

  1. Pengembangan Materi Pembelajaran dan Evaluasi Secara Online

Tidak bisa dipungkiri, saat ini pengguna media online telah merambah dalam masyarakat secara luas, bahkan anak usia sekolah. Data dari Kominfo menyebutkan, “pada tahun 2017 jumlah pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 112.000.000 orang, yang mengalahkan Jepang yaitu menempati peringkat ke-5 pengguna internetnya yang cenderung lebih lamban”.

Sifat, karakteristik dan keunggulan media online dibandingkan media konvensional adalah; kapasitasnya besar, halaman web bisa menampung naskah yang panjang, edit data bisa kapan saja, jadwal terbit bisa setiap saat, cepat, begitu di-upload langsung bisa diakses oleh semua orang, menjangkau seluruh belahan dunia. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat banyak yang beralih “move on” dari media cetak/elektronik kepada media online. Namun demikian, bagaimana dengan situasi di sekolah? Maka seorang pendidik harus pintar menggunakan media tersebut sebagai instrumen, khususnya pemanfaatan dalam pembelajaran dan penilaian yang dikemas secara online.

Pengembangan media dan evaluasi pembelajaran sangat penting, karena hal ini merupakan “ruh” pendidikan itu sendiri. Apalagi pengembangan itu dilakukan dengan memaksimalkan fasilitas yang sudah ada; laboratorium komputer, jaringan wifi, server, dan para peserta didik mayoritas di rumahnya memiliki gadget yang terkoneksi internet. Maka pengembangan media dan evaluasi pembelajaran secara online bukan hal yang sulit dilakukan di lembaga pendidikan YPK. Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa berat tas sekolah siswa SD mencapai 3 kg bahkan lebih, tas itu berisikan buku-buku teks pelajaran. Maka dengan adanya perkembangan teknologi, bahan pembelajaran itu bisa diringkas dalam satu wadah yang ringan. Tablet seharga 2-3 juta bisa menjadi solusi permasalahan bahan ajar, sekaligus menjadi jargon lembaga pendidikan YPK berbasis ICT.

Pengembangan media dan evaluasi pembelajaran online sekaligus dapat menunjang dan mengoptimalkan nilai UN dan kejuaraan olimpiade. Hal ini bisa terjadi jika ada upaya untuk terus mengevaluasi capaian program sukses UN dan kejuaraan olimpiade dengan objektif, baik kelebihan dan kekurangannya.

Di samping itu, daya dukung untuk pengembangan media pembelajaran dan evaluasi online harus segera dilengkapi, seperti jaringan wifi diperkuat dan diperluas hingga masuk ke ruang-ruang kelas. Memberikan tambahan skill kepada para guru atau dengan program tutor sebaya dalam pembuatan dan pengembangan media pembelajaran dan evaluasi online. Aplikasi yang bisa digunakan seperti; google forms, quiz creator wondershare, quizME online, dsb.       

  1. Persiapan Pengembangan Sekolah Ramah Bakat (SRB)

Main lempar bola ala pingpong antara sekolah dan orang tua. Hal ini ternyata sudah menjadi cerita keseharian seluruh sekolah, terutama institusi pendidikan berbayar mahal. Tanggung jawab mendidik anak dipingpong sedemikian rupa.

Evaluasi mendalam terhadap pelaksanaan pendidikan sudah banyak dilakukan pelbagai pihak. Evaluasi saja tentu belum cukup apabila tidak ada tindak lanjut, yaitu langkah-langkah kongkrit yang harus dikerjakan. Budi Hadiastuti adalah penggagas dan praktisi Sekolah Ramah Bakat (SRB), yang mengacu pada konsep pendidikan berbasis fitrah (sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan). Sudah semestinya guru dan orang tua membantu peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya. Jangan sampai memaksa mereka untuk memenuhi sebuah capaian yang terstandar massal. Karena fakta menunjukkan mereka memang berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Maka guru dan orang tua harus memahami fitrah yang mendasar dari peserta didiknya. Fitrah itu meliputi; Fitrah keimanan, fitrah belajar dan bernalar, serta fitrah bakat dan kepemimpinan.

Gagasan besar ini tentu bisa diimplementasikan pada lembaga pendidikan YPK khususnya jenjang sekolah dasar (SD). Karena hadirnya sekolah bakat bukan melawan arus, melainkan arus baru yang akan menguatkan arus yang dicanangkan oleh pemerintah, yaitu pendidikan karakter.

Dalam sekolah ramah bakat, pendidik membentuk perilaku bijak menyikapi ujian nasional (UN). Karena, dalam konteks bakat kemampuan akademis anak-anak adalah buah dari dinamika beberapa bakat. Bisa jadi ada yang bakatnya analytical, learner, focus, intellection, dsb. Oleh karena itu, tips menyikapi UN sekolah ramah bakat dengan melakukan; (1) penyebaran kisi-kisi UN mulai kelas 4-6 semester I, (2) membumikan materi UN melalui project yang bermakna, (3) soal UN dikenalkan setelah menyelesaikan project, (4) drilling dilakukan pada kelas 6.      

Dari pengggambaran singkat di atas, tentu YPK bisa menyusun project Sekolah Ramah Bakat (SRB) dengan tahapan yang dapat dilakukan oleh manajemen yayasan yaitu; membangun mindset bersama bahwa tuntutan zaman selalu berkembang, melatih seluruh stakeholder, supervisi sebagai bentuk pendampingan dalam menerjemahkan konsep sampai kepada teknis, dan memberikan apresiasi kepada semua sumber daya manusia. Karena, sesungguhnya para guru itu sedang membangun peradaban, bukan sedang mengikuti perlombaan.

  1. Simpulan

Sebagai bentuk upaya dinamisasi dalam mempertahankan diri dalam kompetisi terbuka ini, YPK harus segera mengembangkan program-program yang terfokus pada kepuasan pelanggan. Program tersebut bisa berbentuk jangka pendek dan jangka panjang. Inovasi program jangka pendek berupa; pegembangan kelas unggulan diniyah (keagamaan), pengembangan bahan ajar dan ulangan secara online, bijak menyikapi UN, optimalisasi kompetisi olimpiade sains, agama, dan kegiatan ekskul.  Sedangkan untuk inovasi program jangka panjang, YPK harus berani berubah dengan menyiapkan program pembaharuan Sekolah Ramah Bakat (SRB).  Hal ini sangat dimungkinkan terwujud, karena keberadaan YPK memiliki SDM yang mumpuni dan fasilitas yang mendukung.

Untuk menjadi sekolah yang terbaik dan diminati masyarakat, maka jalan yang harus ditempuh oleh YPK adalah harus menjadi agen perubahan dalam menangkap kebutuhan masyarakat, agar mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain. Oleh karena itu, YPK harus melakukan evaluasi diri, tidak jumawa dengan merasa menjadi menara gading yang kokoh sendiri. Namun, YPK adalah agen perubahan yang selalu dinamis di masa mendatang.

 

File Pendukung:
SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang SMA Yayasan Pupuk Kaltim, sejak 1983 mengemban misi pendidikan bagi putra-putri karyawan PT. Pupuk Kaltim dan masyarakat Bontang dan sekitarnya, menerapkan sekolah serius untuk sebuah pembelajaran yang optimal, sehingga menjadikan sekolah ini Homebase-nya para juara dan menjadi The gateway to prominent universities dalam mengantar alumninya untuk studi lanjut.
© 2019 SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Follow SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang : Facebook Twitter Linked Youtube